Menu
Portal Berita Kebanggaan Makassar

Menteri LHK: Indonesia tegaskan kerja nyata atasi perubahan iklim

  • Share



Ke depan akan banyak terjadi rekayasa industri

Jakarta (ANTARA) – Dalam Conference of Parties (COP) 26 yang sedang berlangsung di Glasgow, Skotlandia, Indonesia menegaskan untuk melakukan kerja nyata mengatasi perubahan iklim dan berkomitmen atas hal-hal yang secara realistis dapat dilakukan, kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Penegasan itu, kata Siti dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa, juga disampaikan Presiden Joko Widodo dalam berbagai pertemuan bilateral hingga Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Dunia COP26 yang berlangsung Senin (1/11) waktu Glasgow.

”Pesan penting Presiden Jokowi, bahwa Indonesia tidak bekerja dengan retorika, tapi kerja nyata. Indonesia berkomitmen dan berjanji atas hal-hal yang secara realistis bisa dilakukan. Kita tidak akan menjanjikan apa yang tidak bisa kita kerjakan,” katanya.

Langkah-langkah Indonesia dalam upaya mengatasi dampak perubahan iklim kepada rakyat, di antaranya dengan mengurangi laju deforestasi terendah sepanjang sejarah, Perhutanan Sosial, TORA, rehabilitasi gambut dan mangrove, pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta berbagai upaya nyata lainnya. Hal itu juga ditegaskan Presiden Jokowi dalam KTT.

Pada pertemuan dengan CEOs Forum, Presiden melihat pentingnya sinkronisasi kebijakan antara negara maju dan berkembang mengenai perubahan iklim. Sedangkan saat bertemu Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, menurut dia, Presiden menyatakan Indonesia akan fokus pada kerja sama dan hilirisasi dengan orientasi ekonomi hijau.

Baca juga: Menteri LHK sampaikan posisi adaptasi RI di pertemuan jelang COP26

Baca juga: Menteri LHK sebut Indonesia alami evolusi di bidang lingkungan hidup

”Saya membayangkan ke depan akan banyak terjadi rekayasa industri,” kata Siti.

Selanjutnya dalam pertemuan Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Slovenia Janez Jansa, ia mengatakan Presiden mengharapkan agar Slovenia mendorong finalisasi perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement.

”Presiden Jokowi menyayangkan masih ada indikasi perlakuan diskriminatif atas alasan rantai suplai¬†komoditi pertanian,” ujar dia.

Selain pertemuan bilateral, dalam suasana yang hangat di tengah agenda padat, Perdana Menteri Kanada Justin Pierre Trudeau juga sempat bertemu Presiden Jokowi dan menyatakan dukungan penuh kepada Indonesia Presidensi G20 di 2022.

Pada akhir kunjungannya kemarin waktu Glasgow, Presiden Jokowi mengunjungi Paviliun Indonesia yang menjadi strategi soft diplomacy menunjukkan pada dunia, komitmen, implementasi dan capaian Indonesia menuju FoLU Net-Sink 2030.

”Berbagai aksi dan implementasi nyata ini tidak membuat kita berhenti, justru banyak kerja yang harus segera ditindaklanjuti sepulang dari Glasgow, tidak hanya untuk kepentingan rakyat Indonesia tapi juga untuk kepentingan perubahan iklim dunia melalui FoLU Net-Sink 2030,” ujar dia.

Selain FoLU Net-Sink 2030, Indonesia telah mengadopsi strategi jangka panjang rendah karbon dan ketahanan Iklim 2050, serta peta jalan yang detail untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih awal.

Baca juga: Menteri LHK bahas pendanaan iklim dengan Presiden COP26 Alok Sharma

Baca juga: Negara-negara kaya diminta penuhi janji atasi perubahan iklim

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *