Menu
Portal Berita Kebanggaan Makassar

Antar Cindy yang Meninggal 4 Tahun Lalu, Driver Ojol Ini Ketakutan Setengah Mati Saat Tiba di Tanjakan Emen, Herman Suherman: Motor Kaya Berat Gitu

  • Share

BERITAMAKASSAR.com — Beberapa waktu lalu, cerita horor dari driver ojek online (ojol) bernama Herman Suherman sempat viral di media sosial.

Herman Suherman menyebut dirinya mengantar seorang penumpang yang mengaku sebagai tim dari Jurnalrisa, Cindy, dari Bandung ke Subang.

Namun, setelah diselidiki, Cindy ternyata sudah meninggal empat tahun lalu.

Herman mengantar Cindy karena diminta driver ojol lain di jalanan.

Saat sedang berhenti di lampu merah jalanan Bandung, Herman dimintai bantuan oleh sesama driver ojol.

Driver ojol yang tak dikenalnya itu meminta Herman untuk mengantar Cindy ke Subang.

Kasihan melihat driver ojol tak bisa mengantar penumpang, Herman pun akhirnya mau mengantarkan Cindy ke Subang.

Bukan cuma mengantar ke Subang, Herman kala itu diminta Cindy untuk mengantarnya kembali ke Bandung.

Ya, perjalanan Herman dan Cindy itu rencananya adalah pulang pergi.

Tak menaruh curiga, Herman pun akhirnya bergegas mengantar Cindy dari Bandung menuju Subang.

Sepanjang perjalanan, Cindy diakui Herman selalu berbicara soal motor.

Hingga akhirnya, Cindy meminta agar dia saja yang membawa motor.

Merasa tak enak, Herman pun menolak permintaan Cindy.

Sampai di Lembang, Herman pun berinisiatif untuk mengisi bensin.

Tiba di pom bensin, Herman menyebut bahwa kehadirannya mendadak jadi pusat perhatian.

Ya, saat Herman mengisi bensin, orang-orang di pom langsung melihatnya dengan heran.

Tak langsung curiga, Herman mengaku saat itu dirinya tidak berpikir soal mistis.

“Bensin saya udah mau habis tinggal satu strip, saya ke pom. Nah di situ udah pada ngeliat. Cuma saya gak penasaran lah, mungkin lihat cewek,” ungkap Herman di vlog jurnalrisa yang dilansir pada Kamis (18/6/2020).

“Pada ngeliat gimana?” tanya Risa Saraswati.

“Ya mungkin kalau, maaf ya, kalau pikiran kotor, Cindy itu kan pakai kaos putih, kena hujan, ya otomatis transparan. Pikir saya ke sana,” ujar Herman.

Sempat tak curiga, ketakutan Herman tiba-tiba muncul saat masuk ke wilayah tanjakan emen.

Kala itu, Cindy sudah dalam posisi yang membonceng Herman.

Ya, setelah memaksa dengan cukup sengit, Cindy akhirnya diizinkan membonceng Herman.

Merasa ada yang janggal, Herman pun ketakutan.

Sebab saat masuk ke wilayah tanjakan emen, motor yang dinaikinya mendadak jadi berat.

“Mulai masuk tanjakan emen, perasaan motor agak berat. Meskipun saya dibonceng, tapi bisa merasakan,” pungkas Herman.

“Kerasa gitu beda?” tanya Risa Saraswati.

“Saya ngomong ‘mba, berasa enggak ini motor kayak berat. Kayak ada yang naik?’. Ya itu di tengah kata dia tuh,” ujar Herman.

Mengaku takut, Herman pun disuruh Cindy untuk berdzikir.

Namun saat menyuruh dzikir, Cindy diakui Herman seperti meminta dengan nada marah.

“Ya udah Aa dzikir aja. Dia (Cindy) bilang dzikir itu, kayak agak marah nadanya tuh,” imbuh Herman.

“Kayak marah?” tanya Risa Saraswati.

“Nah di sana tapi, waktu saya mau dzikir, dia (Cindy) ngajak ngobrol terus,” kata Herman.

Tak cuma di situ, Herman juga akhirnya merasa ketakutan.

Terlebih saat Cindy tiba-tiba membunyikan klakson di tanjakan emen.

Herman menyebut bahwa ketika sudah masuk ke kawasan tanjakan emen, Cindy mendadak membunyikan klakson.

“Nah gini a, kalau lewat jalan sini harus bunyiin klakson. Kalau enggak, buang puntung rokok, katanya gitu,” pungkas Herman.

Saat itu, Herman mengaku ketakutan bukan karena hal mistis.

Herman khawatir jika Cindy adalah komplotan begal.

Meski ketakutan, Herman pun tetap berpikiran positif.

Terutama saat Herman melihat keanehan pada Cindy yang mendadak sedih saat mengurai cerita soal mbah emen.

“Dia (Cindy) nadanya kayak sedih, cerita soal mbah emen. Kenapa sih orang-orang selalu nyalahin mbah emen, padahal mbah emen tuh korban juga,” kata Herman.

Sempat redam rasa takutnya, Herman kembali dibuat merinding.

Yakni saat ia melihat ada orang jogging di tanjakan emen.

“Di situ saya lihat ada orang jogging. Lari-lari kecil,” kata Herman.

“Berarti itu jam 10 an ya?” tanya Risa Saraswati.

“Mungkin setengah 10. Kalau jam 10 posisi di Subang, udah nyampe,” ujar Herman.

Tak seperti Herman yang takut, Cindy justru tenang.

Melihat orang jogging, Cindy menyebut bahwa itu hanya orang gila.

Mengalami serangkaian hal menyeramkan, Herman dan Cindy akhirnya sampai di Subang.

Setibanya di Subang, Herman pun menunggu di depan gang rumah Cindy.

Diminta menunggu, Herman mulai curiga saat Cindy tak muncul-muncul lagi di hadapannya.

Hingga akhirnya Herman mendapat kabar bahwa Cindy adalah sosok wanita di Subang yang sudah meninggal dunia empat tahun lalu.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *