News  

Agustinus Edy Ungkap Kejanggalan Kartu Pra Kerja, Ruangguru Angkat Bicara

Ilustrasi Kartu Pra Kerja (Luthfy Syahban/detikcom)

BeritaMakassar.com – Founder dan CEO dari Portal Berita Hukum dan Politik Gresnews, Agustinus Edy Kristianto, mengunggah pengalamannya saat mengikuti kelas online Skill Academy Ruangguru dari Program Kartu Pra Kerja. Dia menilai ada kejanggalan terhadap sistem Kartu Pra Kerja.

Melalui akun Facebook-nya,Agustinus menceritakan pengalamannya, mulai mendaftar Kartu Pra Kerja pada Kamis (16/4/2020), kemudian menyelesaikan kelas online di bidang jurnalistik pada Rabu (29/4), hingga mendapatkan sertifikat pelatihan. Dia merasa heran karena sertifikat pelatihannya tidak ditandatangani oleh ahli dalam bidang jurnalistik, namun oleh CEO Skill Academy Adamas Belva Syah Devara.

“Sertifikat sebuah kelas jurnalistik itu ditandatangani oleh CEO Skill Academy Adamas Belva Syah Devara, orang yang tidak pernah berkecimpung di dunia pers, bahkan mungkin tidak pernah menulis satu judul berita pun sepanjang hidupnya,” tulis Agustinus dalam akunnya, yang dikutip detikcom, Kamis (30/4).

“Sebuah sertifikat yang bukan dari pihak yang berkompeten dalam dunia pers, semacam Dewan Pers, Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), atau Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y),” sambungnya.

Dalam unggahannya, Agustinus menceritakan bagaimana proses jual-beli kelas online berlangsung dalam program Kartu Pra Kerja. Awalnya, ia melakukan transaksi sebesar Rp 220 ribu dengan mengikuti kelas online bertajuk ‘Jurnalistik: Menulis Naskah Berita Seperti Jurnalis Andal’. Melalui transaksi itu, ia pun mendapatkan akses sebanyak 11 video pelatihan dari Skill Academy.

Jurnalis senior itu mengatakan sertifikat pelatihan dapat diperolehnya meskipun ia tidak menyelesaikan salah satu dari video pelatihan yang ada. Dia juga menyatakan dapat mengerjakan 13 soal ujian dalam waktu 5 menit dalam kelas online tersebut. Usai menyelesaikan kelas itu, ia mengatakan saldo yang dimilikinya pindah ke rekening Skill Academy sebesar Rp 220.000.

Berikut ini pernyataan lengkap Agustinus Edy:

Selesai sudah.
Saya memulai dengan mendaftar Kartu Prakerja pada 16 April 2020.
Saya menyelesaikan pada 29 April 2020 dengan mendapatkan sertifikat pelatihan online: ‘Jurnalistik: Menulis Naskah Berita Seperti Jurnalis Andal’.
Sertifikat sebuah kelas jurnalistik itu ditandatangani oleh CEO Skill Academy Adamas Belva Syah Devara- orang yang tidak pernah berkecimpung di dunia pers, bahkan mungkin tidak pernah menulis satu judul berita pun sepanjang hidupnya.
Sebuah sertifikat yang bukan dari pihak yang berkompeten dalam dunia pers, semacam Dewan Pers, Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), atau Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan Yogyakarta (LP3Y).
Saya buktikan terjadinya TRANSAKSI JUAL-BELI kelas online dalam Kartu Prakerja yang dibayarkan oleh UANG NEGARA Rp 5,6 triliun.
Saya buktikan transaksi Rp 220 ribu untuk pembelian Paket Prakerja ‘Teknik Menulis Naskah Berita Seperti Jurnalis Andal’ yang terdiri dari 11 video melalui Skill Academy.
Saya buktikan sertifikat bisa keluar tanpa saya selesaikan satu video pun (dari 11 video dalam kelas online itu).
Saya buktikan dalam 5 menit saya selesaikan 13 soal ujian (exam), sepengetahuan saya saja, melampaui passing grade 55.
Saya buktikan dengan mengisi rating dan review, sembari saya sisipkan “Salam 5,6 Triliun” di kolom.
Saya buktikan sendiri saldo berkurang menjadi Rp 780 ribu dan saya diminta menunggu jadwal pencairan insentif, yang saya sambungkan ke rekening OVO.
Saya buktikan duit negara berkurang Rp 220 ribu di saldo Kartu Prakerja saya dan masuk rekening Skill Academy.
Melalui notifikasi email, saya masih ditawari lagi promosi:
“Ayo beli kelas lainnya di Skill Academy dan dapatkan bonus Rp 100.000 + gratis langganan Ruangguru!”
Rp 5,6 triliun dari APBN adalah jumlah yang sangat besar. Jangan dipakai untuk transaksi pembelian video seperti ini.
Terbukti bahwa sistem pemilihan peserta bisa meloloskan orang seperti saya, yang bukan merupakan sasaran peserta. Saya mengisi data sebagai wiraswasta, bukan korban PHK, pengurus dan pemegang saham perseroan pula (jika dicek ke Kemenkumham).
Jika ingin memberi pelatihan, jangan ada transaksi jual-beli seperti ini. Cari format terbaik pada saat yang terbaik nanti. Bukan pada saat sulit seperti sekarang ini.
Hentikan segera bisnis jual-beli kelas online/video pelatihan Rp 5,6 triliun ini.
Jika ingin semi bansos, prioritaskan Rp 600 ribu per bulan secara langsung kepada peserta. Tambahkan Rp 150 ribu insentif pengisian survei itu kepada peserta. Langsung. Tanpa syarat apa pun.
Pengisian survei sama sekali tidak berguna bagi peserta. Itu hanya menguntungkan platform digital yang membutuhkan rating dan review untuk menjalankan bisnisnya melalui promosi digital. Di situlah, salah satunya, valuasi perusahaan akan digelembungkan.
Salurkan Rp 750 ribu/bulan selama 4 bulan itu lewat BNI, OVO, Gopay, LinkAja silakan. Yang penting sampai dengan utuh kepada peserta untuk membantu mereka bertahan hidup. Peserta yang tepat! Mereka yang betul-betul membutuhkan. Dari Sabang sampai Merauke.
Lupakan gimmick sertifikat digital itu. Tidak ada gunanya sama sekali.
Apa lagi bahan pertimbangan yang dibutuhkan Presiden Jokowi untuk menghentikan TRANSAKSI JUAL-BELI video berbiaya APBN Rp 5,6 triliun itu?
Sudah semuanya, Pak Presiden.
Ini sudah melampaui batas kewarasan.
Salam 5,6 Triliun.
NB: Sisa saldo Rp 780 ribu tidak akan saya pakai lagi. Dengan demikian, pada akhir tahun anggaran 2020, dana itu akan kembali ke Kas Negara.

Pihak Skill Academy Ruangguru angkat bicara menanggapi apa yang disampaikan Agustinus. Public Relations Lead Ruangguru, Sekar Krisnauli menjelaskan bahwa ada dua jenis sertifikat yang dikeluarkan oleh Skill Academy, yaitu sertifikat ‘Completion’ atau penyelesaian materi dan sertifikat ‘Excellence’.

“Ketika menulis artikel tersebut, Sdr Agustinus hanya menunjukkan Certificate of Excellence karena yang bersangkutan telah menyelesaikan ujian akhir, bukan Certificate of Completion karena belum melengkapi seluruh materi yang ada,” kata Sekar dalam pernyataan yang diterima detikcom, Kamis (30/4/2020).

Sekar menegaskan setiap sertifikat yang diterbitkan Skill Academy tidak dimaksudkan untuk menyertifikasi profesi tertentu. Menurutnya, hal itu sudah sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh Manajemen Pelaksana Kartu Pra Kerja.

Berikut ini pernyataan lengkap Ruangguru menanggapi pernyataan Agustinus Edy:

Ruangguru merupakan perusahaan teknologi pendidikan terbesar di Indonesia yang telah dipercaya oleh lebih dari 17 juta pengguna serta 300.000 guru dalam memberikan layanan berbasis pendidikan. Skill Academy by Ruangguru adalah salah satu layanan Ruangguru yang beroperasi sejak tahun 2019 dan sampai saat ini telah membantu lebih dari 1 juta pengguna di Indonesia untuk meningkatkan keterampilan dan memperluas kesempatan kerja. Kami bermaksud untuk meluruskan kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh tulisan Sdr. Agustinus Edy Kristianto mengenai bagaimana Skill Academy berjalan dalam program Kartu Prakerja.

1. Skill Academy memonitor 2 (dua) metrik utama: penyelesaian materi dan penguasaan materi. Oleh karena itu, Skill Academy menerbitkan 2 (dua) jenis sertifikat: sertifikat “Completion” (penyelesaian materi) dan sertifikat “Excellence” (penguasaan materi).
– Untuk memperoleh sertifikat Completion, peserta harus menyelesaikan seluruh rangkaian video (minimum 80% dari durasi setiap video) dan materi lain termasuk kuis serta materi teks secara komplet.
– Untuk memperoleh sertifikat Excellence, peserta harus mengikuti ujian akhir dan lulus ujian tersebut di atas passing grade yang sudah ditentukan.
– Sertifikat yang kami berikan ditandatangani oleh perwakilan lembaga, dalam hal ini adalah CEO Ruangguru, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja dan juga dilakukan oleh hampir semua Mitra Kartu Prakerja.
– Sertifikat yang diterbitkan oleh Skill Academy adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga swasta sebagai tanda partisipasi atau penguasaan materi silabus kelas terkait dan tidak dimaksudkan untuk menyertifikasi profesi. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh Manajamen Pelaksana Kartu Prakerja.

Ketika menulis artikel tersebut, Sdr. Agustinus hanya menunjukkan Certificate of Excellence karena yang bersangkutan telah menyelesaikan ujian akhir, bukan Certificate of Completion karena belum melengkapi seluruh materi yang ada.
Skill Academy selalu melaporkan status keikutsertaan peserta beserta nilai yang diperoleh dari ujian setiap harinya ke Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan. Sistem dan mekanisme serupa juga dilakukan oleh banyak platform Mitra Prakerja lainnya.

2. Setiap kelas Skill Academy memiliki target sasaran yang berbeda-beda dengan rata-rata rating 4.86/5.0 yang diberikan oleh puluhan ribu pengguna, baik peserta program Kartu Prakerja maupun pembeli individu independen.
Kelas jurnalistik yang dibahas oleh Sdr. Agustinus memiliki rating yang sangat tinggi, yaitu 4.9/5.0 yang diberikan oleh 4,835 pengguna. Hal ini berarti, pengguna mengapresiasi dan menilai kelas tersebut sangat bermanfaat. Sesuai deskripsi yang tertera, kelas ini ditujukan untuk pemula, khususnya untuk mereka yang ingin memahami seluk-beluk dasar pada bidang jurnalistik dan ingin memulai karier pada bidang jurnalistik.
Terdapat juga dua jenis kelas di Skill Academy. Pertama, berupa rangkaian materi (video, kuis, modul tertulis, dan rangkuman) yang bisa diakses berulang-ulang selamanya. Kedua, berupa kelas webinar, yaitu tempat pengguna mengikuti live class dan berinteraksi langsung dengan pengajar.

3. Setiap kelas pelatihan di Skill Academy dikembangkan dan difasilitasi oleh pakar bidang yang telah melalui proses seleksi ketat. Kriteria pakar bidang untuk menjadi instruktur seluruh kelas pelatihan yang ada di Skill Academy antara lain:
– Memiliki latar belakang pendidikan dan (atau) pengalaman kerja secara profesional (praktik) pada bidang atau topik yang akan diajarkan;
– Memiliki silabus atau rencana pengajaran yang sesuai dengan standar yang berlaku di industri saat ini;
– Proses pengembangan kelas juga dibantu oleh sejumlah tim produksi yang berpengalaman, termasuk kurator, instructional designer, content analyst, serta production & post-production team;
– Setiap kelas yang akan dirilis di dalam situs juga melalui proses uji kelayakan dengan calon pengguna dan berdasarkan hasil evaluasi.

Kelas-kelas di Skill Academy diajar oleh berbagai pengajar dengan reputasi yang sangat baik di bidangnya dan berasal dari pimpinan dan manajemen senior berbagai perusahaan dan lembaga bergengsi di Indonesia, misalnya OVO, Traveloka, Gojek, NET TV, Kata.ai, dan masih banyak lagi.

Sumber : https://news.detik.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *