Virus corona: Pemerintah diminta ‘dekati ustaz di perkampungan’ untuk bujuk warga ibadah di rumah selama Ramadan

Majelis Ulama Indonesia terus menganjurkan umat Islam di zona merah penyebaran Covid-19 untuk beribadah dari rumah selama bulan Ramadan, yang dimulai pada pekan depan.

Selama ini beberapa pengurus rumah ibadah di perkampungan masih menggelar salat berjemaah secara sembunyi-sembunyi, menurut Forum Silaturahmi Takmir Masjid se-Jakarta.

Sosialisasi dan pendekatan pemerintah terhadap pengurus masjid di lingkungan kelas menengah ke bawah disebut merupakan kunci agar penyebaran virus corona tidak memburuk selama bulan puasa.

Apa kata MUI?

Dalam jumpa pers, Senin (13/04), Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, mengimbau umat Islam mengganti tradisi Ramadan yang selama ini berpusat di masjid.

Buka puasa bersama, kata dia, semestinya diganti dengan mengirimkan bantuan makanan kepada petugas medis atau kelompok masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi selama pandemi.

Zakat yang biasanya diarahkan untuk masjid, menurut MUI saat ini sebaiknya juga disumbangkan untuk penanganan Covid-19.

“Bulan suci ramadhan ini kita gunakan secara bersama-sama sebagai wujud peneguhan komitmen hablumminallah dengan meningkatkan aktivitas ibadah menjadikan rumah,” kata Asrorun.

Kendati dianjurkan beribadah di rumah, beberapa masjid tetap melakukan salat jumat dengan menerapkan penjarakan fisik.

Menteri Agama Fachrul Razi pada 6 April lalu menyebarkan surat edaran agar bawahannya di daerah memberi panduan ibadah yang sesuai syariat Islam dan minim risiko Covid-19.

Selain soal anjuran salat tarawih di rumah dan meniadakan takbir keliling, surat edaran yang terdiri dari 15 poin itu juga mendesak lembaga pemerintah meniadakan buka puasa bersama yang sudah dianggap acara tahunan.

‘Ingin ibadah di masjid’

Bagaimanapun, sebagian umat Islam tetap berharap bisa mengisi bulan Ramadan dengan salat berjemaah di masjid.

Salah satunya Ade Surya, warga Tomang, Jakarta Barat. Pria yang menjabat sebagai ketua Rukun Warga (RW) di permukimannya itu mengaku belum mendapat kepastian apakah masjidnya akan mengadakan salat tarawih berjemaah dan kegiatan keagamaan lain selama Ramadan.

“Di RW saya kan masih bersih Covid-19, apalagi kegiatan seperti salat taraweh kan jarang mengundang massa atau warga dari luar kampung, biasanya orang lingkungan kami saja.”

“Dan kalau grafiknya kasus Covid-19 menurun, tarawih di masjid bisa dilaksanakan. Semoga ini bisa segera berakhir sehingga kami bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang,” kata Ade lewat sambungan telepon, Senin (13/04).

Kenyataannya, berdasarkan data resmi Pemprov DKI Jakarta, Tomang tidak bebas dari pandemi. Terdapat 14 orang yang dinyatakan positif terjangkit Covid-19 di kelurahan itu, sembilan di antaranya di rawat di rumah sakit.

Hingga 3 April lalu, Ade mengaku masih mengikuti salat Jumat di masjid dekat tempat tinggalnya.

Kala itu pemerintah pusat sudah menetapkan status darurat kesehatan akibat pandemi Covid-19. Pemerintah DKI Jakarta pun saat itu sudah menyerukan agar warga ibu kota beribadah di rumah.

Ade menyebut pengurus masjidnya sebenarnya memahami risiko Covid 19. “Ada pemeriksaan suhu tubuh dan penyemprotan cairan disinfektan kepada jemaah masjid dilakukan sebelum salat dimulai,” ujarnya.

Menurut Ade, itulah terakhir kali salat Jumat berjemaah digelar masjid di lingkungannya.

Banyak umat Islam memanfaatkan bulan Ramadan untuk kembali mendekatkan diri dengan masjid.

Adapun Masjid Al-Ikhlas di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, belum berencana meniadakan aktivitas berjemaah pada bulan Ramadan.

Pengurus masjid itu, Cecep Rohana, juga menyebut desanya masih bebas dari pandemi Covid-19. Walau begitu, ia akan meminta semua jemaahnya beribadah dari rumah jika MUI dan otoritas setempat memerintahkannya demikian.

Faktanya, hingga 13 April ini, Pemprov Jawa Barat mencatat terdapat 27 kasus di Rancaekek, dengan rincian 1 pasien dalam pengawasan dan 26 orang dalam pemantauan.

“Kompleks saya kan aman. Info dari lurah, kebijakan akan disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing,” kata Cecep.

“Kalau zona merah, ibadah harus diusahakan dilakukan di rumah. Tapi daerah saya, daerah aman, belum ada pasien Covid-19.”

“Kami mengikuti arahan MUI. Kalau dinyatakan rawan, pasti akan berhenti semuanya,” ucapnya.

‘Perlu gandeng pemuka agama’

Secara umum, Koordinator Forum Silaturahmi Takmir Masjid se-Jakarta, Muhammad Husni Mubarok, menyebut ada tantangan besar untuk memberi pemahaman kepada seluruh imam dan ustaz terkait risiko penyebaran Covid-19 dalam aktivitas berjemaah di masjid.

“Terutama mereka yang tidak paham bahaya Covid-19 atau mereka paham, tapi ada kebencian kepada pemerintah,” kata Husni saat dihubungi.

Husni berkata, sebagian besar masjid di Jakarta yang masih menggelar kegiatan berjemaah berada di lingkungan padat penduduk atau permukiman kelas ekonomi menengah ke bawah.

Solusinya, menurut Husni, pemerintah perlu menggandeng pemuka agama yang disegani untuk menyerukan penghentian aktivitas umat di masjid selama pandemi ini.

“Masjid-masjid ini bersiasat dengan tidak menggunakan pengeras suara. Khatib yang biasanya kotbah 10-15 menit, kini hanya 5 menit. Salat langsung kotbah, tidak ada salaman, langsung bubar,” ujar Husni.

“Perlu sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menggandeng ulama atau para habib. Mereka perlu menyampaikan imbauan dengan bahasa yang sejuk.”

“Bukan cuma kepada masyarakat tapi para ustaz yang di perkampungan. Mereka ini yang punya kewajiban menjelaskan kepada umat. Kalau di kompleks perumahan, rata-rata sudah tidak ada salat berjamaah di masjid,” kata Husni.

Sumber : https://www.bbc.com/indonesia

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gusun Fawaida

Sahabat yang baik itu seperti bintang. Kamu tidak selalu melihat mereka, tapi kamu tahu mereka ada disana