Menu
Portal Berita Kebanggaan Makassar

Miris Kades Cabul di Labura: Minta Minum ke Warga Malah Coba Memperkosa

  • Share

Labuhanbatu Utara – Warga salah satu desa di Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara (Sumut), mendesak bupati dan camat setempat mencopot oknum kepala desa (kades) yang kepergok hendak memperkosa salah satu warganya. Peristiwa percobaan pemerkosaan itu terjadi di rumah korban saat pelaku hendak meminta air minum.
Desakan copot oknum kades itu tertuang dalam surat yang ditujukan ke Bupati Labura serta Camat Aek Natas. Dalam suratnya, warga mengatakan keberatan atas tindakan amoral kepala desa tersebut.

“Kami atas nama masyarakat Desa Perkebunan Halimbe, yang bertanda tangan di bawah ini, bahwa kami merasa keberatan atas tindakan amoral kepala desa kami,” demikian isi surat itu seperti dilihat detikcom, Jumat (17/4/2020).

Di bagian akhir surat, warga meminta agar oknum kepala desa tersebut dicopot. Warga juga melampirkan nama dan tanda tangan mereka bersama surat itu.

“Kami mohon supaya dicopot dari jabatan Kepala Desa Perkebunan Halimbe,” tulis surat itu.

Perbuatan bejat oknum kades yang hingga kini belum diungkap identitasnya itu terjadi ketika ada kegiatan penyemprotan disinfektan untuk mencegah penularan virus Corona (COVID-19) ke rumah-rumah warga. Kegiatan ini diinisiasi salah satu perusahaan di Desa Perkebunan Halimbe, dengan sasaran rumah para karyawannya.

Setelah rumah korban mendapat giliran penyemprotan, pelaku tetap berada di dalam rumah korban dengan alasan meminta air minum. Entah apa yang ada di dalam pikiran si kades, saat itu dirinya langsung menyergap korban dan melakukan pelecehan.

Beruntung, anak korban memergoki perbuatan bejat pelaku dan langsung menangis. Pelaku pun tak dapat melarikan melarikan diri karena kondisi lantai rumah yang masih licin akibat cairan disinfentan yang baru saja disemprotkan ke seluruh ruangan rumah korban.

Kembali ke soal desakan agar mencopot kades, Camat Aek Natas Rojali mengatakan hal tersebut merupakan wewenang bupati. Hingga kini belum diketahui juga tanggal pasti peristiwa itu terjadi.

“Kalau yang tanda tangan itu, setahuku, kades itu tidak diterima lagi oleh warga. Kalau itu kan yang buat SK Bupati, bukan saya. (Warga minta kades dicopot) iya,” ujar Rojali.

Pada Rabu (15/4) malam, Rojali mengatakan korban sudah melapor ke polsek setempat. Namun, karena menyangkut soal perlindungan perempuan dan anak (PPA), korban diarahkan untuk melapor ke polres. Tetapi, setahu Rojali, kasus percobaan pemerkosaan itu akhirnya berujung damai.

“Kemarin, setahu saya, memang kemarin sudah dilaporkan oleh pihak korban. Kalau di polsek nggak ada dia pengaduannya, Pak. Karena kan kemarin itu menyangkut PPA. Jadi pihak polsek kan mengarahkan ke polres. Setahu saya, ya istilahnya berdamailah mereka itu,” ujar Rojali.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *