Menu
Portal Berita Kebanggaan Makassar

Kisah Pilu Seorang Pemulung Mati Kelaparan, 2 Hari tak Makan, Imbas Corona Sulit Cari Barang Bekas

  • Share
Yuli menangis tersedu-sedu saat membagikan cerita keluarganya yang kelaparan karena terdampak pandemi Virus Corona. (YouTube KompasTV)

BARANG BEKAS. Pada barang-barang bekaslah hidup keluarga pemulung. Hanya dari sampah dan barang bekas yang terbuang di pinggiran kota-lah mengatur kehidupan Yuli bersama suami dan anak-anaknya

BARANG BEKAS. Pada barang-barang bekaslah hidup keluarga pemulung. Hanya dari sampah dan barang bekas yang terbuang di pinggiran kota-lah mengatur kehidupan Yuli bersama suami dan anak-anaknya.

Hanya sampah-lah tumpuan rezekinya setiap hari. Dan, menumpukan harapan untuk bisa makan.

Setiap hari begitu fajar merekah, Yuli keluar rumah bersama keluarganya. Yuli bekerja di kantor dinas yang digaji harian.

Sedangkan suaminya keluyuran sepanjang hari mencari barang bekas. Tentu saja, Yuli sekeluarga sangat menggantungkan nafkahnya dari sampah-sampah kota. Sebab, gaji hariannya Rp 25 ribu tak cukup.

Selama pandemi Corona mengganas di Kota Serang, Banten, Yuli tak lagi bekerja harian di kantor dinas itu. Jadi, mereka sekeluarga hanya bergantung nafkah dari suaminya yang pemulung itu.

Akan tetapi, penghasilan pemulung juga ikut tergerus lantaran aktivitas ekonomi tak berputar seperti biasa. Penghasilan tambahan dari barang-barang bekas yang dijual pun seperti plastik, kertas bekas, kaleng, tak ada.

Bisa Anda bayangkan betapa beratnya kehidupan keluarga pemulung seperti Yuli ini. Bahkan, mereka harus merasakan lapar berhari-hari.

Yuli, meninggal dunia di kediamannya kemarin diduga diakibatkan kelaparan.

Adapun Suami Yuli, Kholid menjelaskan pagi hari sebelumnya istrinya masih sempat berbincang di rumah.

Yuli sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda sakit.

Sampai pukul 13.00 WIB, Yuli masih seperti biasa berinteraksi dengan empat anaknya sambil merapihkan bantuan dari masyarakat.

Akan tetapi ketika jam 2 siang, Kholid mendapati kabar dari sang anak bahwa istrinya pingsan.

“Pingsan dibawa ke puskesmas pukul 15.00 tapi ya itu puskesmas bilangnya sudah tidak ada (meninggal),” terangnya.

Menangis Kelaparan

Sebelumnya diberitakan, sambil menggendong buah hatinya yang masih kecil, Yuli tak kuasa menahan tangis.

Air matanya bercucuran menceritakan nasib keluarganya yang terdampak secara ekonomi akibat wabah virus corona.

Suaminya Kholid adalah pemulung yang kena imbas juga akibat adanya pandemi corona.

Kisah hidup keluarga ini terlihat dari tayangan berita Kompas TV yang diunggah ke Youtube pada 19 April 2020, berjudul ‘Memprihatinkan, Satu Keluarga Kelaparan Tak Makan 2 Hari karena Dampak Corona’.

Sambil menangis, ibu dari empat anak ini mengatakan, sudah dua hari tidak makan.

“Dua hari (tidak makan), diem aja sampai saya sedih,” katanya.

Untuk mengganjal lapar, ia disebut hanya meminum air putih.

Saat ditanya soal bantuan dari pemerintah, Yuli mengaku belum mendapatkannya.

Berikut ini curahan hatinya.

“Belum ada (bantuan), saya udah ngajuin katanya kalau yang masih dapat gaji mah enggak dikasih, enggak di acc dari awalnya tuh karena kerjanya kan di dinas, katanya.

Padahal kan bukan di dinas ini mah wiraswasta jadi per hari digajinya dibayarnya.

Kalau masuk Rp 25 ribu, kalau sakit gak ini gak dikasih.

Kemarin aja mertua meninggal kan lama enggak masuk dipotong,” katanya sambil terisak. 

Artikel ini sudah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kronologi Seorang Ibu di Banten Meninggal Diduga Karena Kelaparan di Tengah Wabah Corona

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *